Futsal and Foot Ball is My
Life Style and Everything For Me
Futsal. Pasti kata tersebut sudah tak asing
lagi bagi kita semua. Permainan yang saat ini digemari oleh orang-orang. Tak
Cuma remaja, bahkan anak-anak dan orang dewasa pun sangat mengemari permainan
tersebut.
Futsal merupakan suatu permainan yang hampir
mirip dengan sepak bola. Tetapi futsal dimainkan didalam suatu ruangan/lapangan
tertutup dengan setiap tim terdiri atas 5 pemain. Sedangkan sepak bola
dimainkan di dalam suatu ruangan/lapangan terbuka dengan setiap tim terdiri
atas 11 pemain.
Futsal bagi
saya adalah jiwa saya dan bola adalah teman. Meskipun saya senang bermain
futsal, tetapi saya tidak lupa dengan pelajaran, bagi saya pelajaran adalah
segalanya. Tanpa belajar, kita mungkin akan sulit untuk mencapai cita-cita.
Saya pernah
membaca sebuah artikel di internet yang berbunyi : “Futsal adalah permainan
bola yang dimainkan oleh dua regu, yang masing-masing beranggotakan lima orang.
Tujuannya adalah memasukkan bola ke gawang lawan, dengan memanipulasi bola
dengan kaki. Selain lima pemain utama, setiap regu juga diizinkan memiliki
pemain cadangan. Tidak seperti permainan sepak bola dalam ruangan lainnya,
lapangan futsal dibatasi garis, bukan net atau papan. Futsal turut juga dikenali
dengan berbagai nama lain.”
“Istilah “futsal” adalah
istilah internasionalnya, berasal dari kata Spanyol atau Portugis, football dan
sala. Futsal diciptakan di Montevideo, Uruguay pada tahun 1930, oleh Juan
Carlos Ceriani. Keunikan futsal mendapat perhatian di seluruh Amerika Selatan,
terutamanya di Brasil. Ketrampilan yang dikembangkan dalampermainan inidapat
dilihat dalam gaya terkenal dunia yang diperlihatkan pemain-pemain Brasil di
luar ruangan, pada lapangan berukuran biasa.”
“Pele, bintang terkenal Brasil, contohnya,
mengembangkan bakatnya di futsal. Sementara Brasil terus menjadi pusat futsal
dunia, permainan ini sekarang dimainkan di bawah perlindungan Fédération
Internationale de Football Association di seluruh dunia, dari Eropa hingga
Amerika Tengah dan Amerika Utara serta Afrika, Asia, dan
Oseania.”
“Adapun manfaat bermain futsal sangat lah
banyak, antara lain; dapat menyahatkan tubuh, meningkatkan sportipitas antar
pemain, dan dapat menjalin persahabatan antar teman dengan erat”
Ketika masih SD, saya masih
belum mengenal apa itu “Futsal”. Saya hanya mengenal yang namanya “Sepak Bola”.
Saya sering bermain sepak bola, baik disekolah, maupun dirumah.
Mengingat tentang sepak bola di sekolah dasar
saat itu menarik juga, bola yang dibawa salah seorang teman kami mainkan
bersama-sama. Tidak peduli dengan halaman sekolah yang kecil, resikonya adalah
tembok sekolah banyak meninggalkan bekas bola dan keadaan semakin gaduh kala
bola mengenai tembok ataupun bola masuk ke gawang. Pada akhirnya, guru Wali
Kelas kami datang menghampiri kami dengan muka yang kelihatan marah. Lalu meminta
bola plastik yang dimainkan teman-teman, salah satu teman memberi bola yang
dimintanya. Ketika bola dipegangnya, dari balik saku baju dikeluarkan pisau
lipat lalu bola dibelah dua. Kami mengerti maksudnya, dan cuma senyum sambil cemberut
menatapnya.
Atas kejadian tersebut, kami tidaklah jera.
Justru kami tetap ingin bermain bola dihalaman sekolah. Karena sepak bola
adalah hobi kami. Jadi, kami tetap ingin bermain bola disekolah meskipun
nantinya akan dimarahi guru lagi.
Beberapa hari kemudian, saya dan teman-teman
membeli bola karet. Setelah sebelumnya bola plastik kami telah dibelah oleh
guru kami. Pada saat bermain menggunakan bola karet, tanpa disengaja teman saya
menendang bola ke kaca jendela. Awalnya kami merasa agak tenang, karena
guru-guru tak ada yang mengetahuinya. Keesokan harinya, kami terkejut karena
kami tiba-tiba dipanggil ke ruang BP. Kami pun merasa gugup. Jantung pun tak
hentinya berdetak dengan begitu kencangnya. Ada salah seorang teman saya yang
bernama Aji, dia mengatakan, “mungkin kita dipanggil bukan gara-gara masalah
kaca yang pecah kemarin pagi, melainkan untuk mendapatkan bantuan, karena kita
kurang mampu”. Jantung pun sudah mulai berhenti berdetak secara perlahan
setelah mendengar perkataan dari teman saya itu.
Kami pun segera ke ruang BP dengan perasaan
yang agak tenang. Tetapi, perasaan tenang tersebut berubah seketika, ketika
guru BP minta pertanggung jawaban atas pecahnya kaca jendela yang terjadi
kemarin pagi. Dalam hati saya berkata, “Bapak ini tahu dari mana ya bahwa kami
yang memecahkan kaca jendela itu?”.
Guru BP tersebut mengatakan bahwa ada salah
satu kakak kelas yang melaporkan kepada saya bahwa ada yang memecahkan kaca
jendela. Kakak kelas tersebut mengatakan bahwa Padillah dan teman-temannya lah
yang memecahkan kaca tersebut.
Setelah mendengar pernyataan tersebut, jantung
kami pun kembali berdetak dengan cepat, karena merasa gugup atas perbuatan kami
tersebut.
Sesaat kemudian, rasa gugup kami pun secara
perlahan menghilang setelah ada teman sekelas kami yang memberikan kami
sejumlah uang untuk mengganti sebuah kaca yang telah pecah tersebut.
Kami pun merasa lebih tenang, lalu segera
mengucapkan terima kasih kepada teman sekelas kami tersebut. Tanpa dia, kami
tak tahu harus berbuat apa lagi. Kami tak memiliki uang yang cukup untuk
mengganti sebuah kaca yang pecah tersebut.
Akhirnya masalah tersebut dapat diselesaikan
secara damai setelah ada salah seorang teman sekelas kami yang memberikan
sejumlah uang untuk mengganti sebuah kaca yang telah pecah tersebut. Kami
merasa senang karena masalah tersebut telah selesai.
Walaupun dimarahi berkali-kali, kami tak akan
jera. Namanya juga anak-anak. Masih belum bisa membedakan yang mana yang baik ataupun
buruk.
Tapi dari kejadian itu tidak membuat kami
menjadi trauma bahkan justru cinta. Pulang sekolah, setiap sore hari, saya
bersama teman lingkungan rumah berkumpul, salah satu teman membeli bola di toko
olahraga dari hasil patungan uang jajan kami. Kami berangkat menuju tanah
kosong yang cukup luas tak terpakai. Tanah kosong itu kami rombak menjadi
lapangan sepak bola. Kami buatkan gawang, kerja bakti membersihkan lapangan
dari batu dan beling kaca, serta kami buatkan garis lapangan. Setelah lapangan
sudah dimodifikasi, kami menjadi lebih giat untuk bermain sepak bola. Tidak
peduli dengan cuaca cerah ataupun hujan lebat. Kami tetap bermain, bahkan
semakin seru. Penghenti waktunya adalah adzan maghrib. Sudah waktunya pulang,
sisanya tinggal dimarahi ibu habis-habisan karena baju dan celana kami begitu
kotor. Akhirnya saya dihukum mencuci sendiri baju yang kotor tersebut.
Beberapa tahun kemudian, saya pun
lulus SD.
Lalu melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu SMP. Tepatnya saya
bersekolah di MTsN Selat Kuala Kapuas. Disekolah inilah, saya baru mengenal apa
itu “Futsal”.
Setiap pelajaran Penjaskes, saya sering bermain
Futsal bersama teman-teman. Saya begitu menyukai permain futsal, meskipun
lumayan melelahkan. Tapi, rasa lelah tersebut tak dapat membuat semangat kami
dalam bermain futsal hilang. Kami begitu semangat dalam memainkan sebuah
permainan yang dimainkan oleh lima orang tersebut.
Namun, meskipun saya sering main futsal pada
jam olahraga. Saya tidak diikut sertakan dalam Pertandingan Class Meeting
Futsal selama dua tahun berturut-turut. Mungkin saya masih belum hebat dalam
bermain fusal, sehingga teman-teman tidak mengikut sertakan saya kedalam tim
mereka.
Barulah ketika kelas IX, saya diikut sertakan
di pertandingan Class Meeting Futsal. Pada saat itu, saya diajak teman saya
yang bernama Wahyudin untuk bergabung kedalam tim mereka untuk mewakili Class
Meeting Futsal. Saya pun menerima ajakan dari teman saya tersebut.
Pada Class Meeting Futsal tersebut, akhirnya
tim kami yang berhasil menjadi juara pertama setelah mengalahkan tim dari kelas
IX-1, yaitu Blanza Foundation lewat drama adu penalty.
Meskipun berhasil menjuarai Class Meeting
Futsal, saya tidak terlalu puas. Karena saya jarang dimainkan. Dalam empat
pertandingan yang telah dijalani, saya hanya bermain dalam satu pertandingan
saja. Yaitu pada pertandingan pertama, saat itu kami melawan tim dari kelas
VIII-4, kami pun meraih kemenangan di pertandingan tersebut. Setelah
pertandingan tersebut, saya hanya memanaskan bangku cadangan dan tidak
dimainkan lagi. Saya kalah bersaing dengan pemain lainnya. Debut yang kurang
manis bagi saya, meskipun berhasil menjuarai Class Meeting Futsal.
Meskipun lebih sering bermain futsal, saya tak
akan pernah melupakan sepak bola. Saya pernah ikut latihan di Klub Persekap
Kapuas. Biasanya setiap sore saya latihan bersama Persekap Kapuas. Sangat
banyak ilmu tentang sepak bola yang saya dapat dari pelatih. Mulai dari
control, passing, dan teknik menendang. Akan tetapi, saya hanya ikut latihan
selama beberapa bulan karena telah merasa jenuh.
Setelah saya berhenti ikut Persekap, setiap
sore saya hanya bermain bola di dalam gang rumah saya. Biasanya kami bermain
dengan 8 orang saja. Setiap tim terdiri dari 4 orang. Biasanya yang sering
terjadi adalah bola jatuh ke air dan nyangkut di atas atap rumah. Kalau bola
jatuh ke air, kami mengambilnya dengan menggunakan kayu yang panjang. Sedangkan
jika bola nyangkut ke atas atap rumah, biasanya ada salah satu dari kami yang
memanjat atap untuk mengambil bola tersebut.
Setahun kemudian, saya lulus dari
MTsN.
Saya melanjutkan sekolah di MAN Selat Tengah Kuala Kapuas. Disekolah inilah
saya merasa puas ketika bermain futsal. Karena saya lebih sering bermain
dibandingkan dengan waktu masih sekolah di MTsN dulu.
Ketika kelas X. Saya mengawali karier saya
sebagai penjaga gawang. Sebenarnya kiper bukan posisi asli saya. Saya hanya
mengisi kekosongan. Pada saat itu, di kelas saya tidak mempunyai seorang kiper.
Jadi, mau tidak mau saya yang bertindak sebagai kiper untuk mengisi kekosongan.
Sebenarnya saya mulai begitu nyaman ketika bermain sebagai kiper. Akan tetapi,
lama kelamaan saya merasa bosan menjadi kiper.
Lalu ketika saya kelas XI. Saya berhenti
menjadi kiper. Saya kembali ke posisi asal saya, yaitu sebagai pemain. Kami pun
membentuk sebuah tim di XI IPA 3 yang bernama OMEGA FC. Setiap seminggu sekali,
kami bermain dengan tim lain di futsal 88 pada laga persahabatan. Hasilnya pun
lumayan memuaskan, kami jarang mengalami kekalahan ketika melawan tim lain.
Puncaknya ketika semester 2. Saat itu akan
diadakan MAN CUP. Sebenarnya kami tidak ada niat untuk mengikuti MAN CUP. Tapi
Lutfi yang mengajak kami untuk mengikuti MAN CUP. Katanya “Untuk menambah
pengalaman”. Akhirnya kami pun ikut serta di MAN CUP tersebut. Meskipun Lutfi
ikut tim lain, tapi dia selalu menyuport kami.
Pada MAN CUP tersebut, saya ditunjuk
teman-teman untuk menjadi Kapten.. Meskipun kami dikalahkan SMASA pada laga
awal, tapi saya tetap bangga atas perjuangan semua pemain. Kami telah berusaha
semaksimal mungkin, meskipun hasilnya kurang maksimal. Saya merasa senang.
Selain ditunjuk sebagai kapten, saya juga dipercaya untuk bermain penuh selama
2 babak tanpa tergantikan, meskipun kami mengalami mengalami kekalahan.
Kini saya lebih sering dimainkan dibandingkan
pada waktu MTsN. Dimana pada saat itu saya jarang dimainkan. Mungkin ini puncak
dari kegemilangan saya dalam bermain futsal.
Saya yakin bahwa kekalahan merupakan kemenangan
yang tertunda, serta awal untuk meraih keberhasilan. Semuanya pasti ada
hikmahnya.
Pada MAN CUP berikutnya, yaitu pada saat kelas
XII. Rencananya kami akan mengikuti MAN CUP lagi.Kami ingin mempersembahkan
yang terbaik buat MAN, sebelum kami tidak bersekolah disini lagi.Semoga kami
bisa mencapai target tersebut.





